Rabu, 07 Desember 2011

skripsi tanaman jagung


PENGARUH  PEMBERIAN  PUPUK  ORGANIK  CAIR  (POC)  TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN
JAGUNG MANIS  (Zea mays saccharata Sturt)









Oleh
ACHMAD  WEIZMAN  AGITARANI










FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRIDINANTI PALEMBANG
PALEMBANG
2011
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan usulan penelitian ini.
Penelitian ini berjudul “Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair (POC) terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt)” yang akan dilaksanakan di  Tanjung Sari Kelurahan Bukit Sangkal Kecamatan Kalidoni Palembang.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu   Dr. Ir. Ruarita Ramadhalina Kawaty, M.P., sebagai pembimbing utama juga Bapak Ir. Ridwan Hanan, M.P., sebagai pembimbing pendamping yang telah memberikan arahan, petunjuk, dan saran selama penyusunan usulan penelitian ini, untuk Ayah dan Ibu yang telah memberikan dukungan dan membiayai pendidikan penulis sampai saat ini.  Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada  kakak, adik, Nurhasanah Aprilia, S.Farm, Agung Wijaya, S.T dan kepada semua pihak yang telah turut memberikan bantuan, mudah-mudahan usulan penelitian ini dapat memberikan manfaat dan petunjuk bagi penulis dalam melaksanakan penelitian ini.

Palembang,       Desember  2011
Penulis,




iii

 

Usulan Penelitian
PENGARUH  PEMBERIAN  PUPUK  ORGANIK  CAIR  (POC)  TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN
JAGUNG MANIS  (Zea mays saccharata Sturt)





Oleh
ACHMAD WEIZMAN AGITARANI
0631110005




Telah disetujui untuk dilaksanakan




Pembimbing Utama




DR. Ir. Ruarita Ramadhalina Kawaty, M.P.



Palembang,      Desember  2011

Pembimbing Pendamping                            Program Studi Agroteknologi




Ir.  Ridwan Hanan,  M.P.                             Ir. Ridwan  Hanan, M.P.



ii

 

DAFTAR ISI


              Halaman
KATA PENGANTAR………………………………………………             iv
DAFTAR IS…………………………………………………………              v
DAFTAR TABEL…………………………………………………...            vi
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………..           vii
I. ...... PENDAHULUAN…………………………………………………..               1
A. Latar Belakang ……………………………………………………             1
B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ………………………………....              6
II.  ... TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………..               7
A. Sistematika dan Botani Tanaman Jagung Manis………………….              7
B. Syarat Tumbuh ……………………………………………………            10
C. Peranan Unsur Hara bagi Pertumbuhan Tanaman ………………..            11
III. ... PELAKSANAAN PENELITIAN……………………………………            13
A. Tempat dan Waktu…………………………………………………           13
B. Bahan dan Alat …………………………………………………….           13
C. Metode Penelitian ………………………………………………….          13

21

 
D. Cara Kerja………………………………………………………….           16
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….





iv

 

DAFTAR  TABEL


                         Halaman
   1.  Nilai Zat Gizi Jagung Manis tiap 100 gram yang Dapat Dimakan….              9
   2.  Analisis Keragaman Rancangan Acak Kelompok (RAK) ………….            15









I.  PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Jagung telah dibudidayakan di Amerika Tengah (Meksiko Bagian Selatan) sekitar 8.000 sampai 10.000 tahun yang lalu. Dari penggalian ditemukan fosil tongkol jagung dengan ukuran kecil, yang diperkirakan usianya mencapai sekitar 7.000 tahun. Menurut pendapat beberapa ahli botani, teosinte (Zea mays sp. Parviglumis) sebagai nenek moyang tanaman jagung, merupakan tumbuhan liar yang berasal dari lembah Sungai Balsas, lembah di Meksiko Selatan. Bukti genetik, antropologi, dan arkeologi menunjukkan bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah dan dari daerah ini jagung tersebar dan ditanam di seluruh dunia ( Iriany, dkk., 2007).
Di Indonesia, daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Khusus di daerah Jawa Timur dan Madura, budidaya tanaman jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhannya (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).

1

 
Menurut data Badan Pusat Statistik (2009), produksi jagung di Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 166,129 ton per tahun.  Hasil produksi jagung terkonsentrasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dengan produksi sebanyak 119,850 ton per tahun, Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA) sebanyak 30,960 ton per tahun, dan di Kabupaten Banyuasin sebanyak 15,319 ton per tahun.

2

 
Tanaman jagung secara spesifik merupakan tanaman pangan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia ataupun hewan.  Jagung merupakan makanan pokok kedua setelah padi di Indonesia.  Sedangkan, berdasarkan urutan bahan makanan pokok di dunia, jagung menduduki urutan ketiga setelah gandum dan padi.  Tanaman jagung hingga kini dimanfaatkan oleh masyarakat dalam berbagai bentuk penyajian, seperti : tepung jagung (maizena), minyak jagung, bahan pangan, serta sebagai pakan ternak dan lain-lainnya.  Khusus jagung manis (sweet corn), sangat disukai dalam bentuk jagung rebus atau bakar (Derna, 2007).
Jagung manis merupakan komoditas pertanian yang sangat digemari terutama oleh penduduk perkotaan, karena rasanya yang enak dan manis banyak mengandung karbohidrat, sedikit protein dan lemak. Budidaya jagung manis berpeluang memberikan untung yang tinggi bila diusahakan secara efektif dan efisien (Sudarsana, 2000).
        Jagung manis mengandung kadar gula yang relatif tinggi, karena itu biasanya dipungut muda untuk dibakar atau direbus.  Ciri dari jenis ini adalah bila masak bijinya menjadi keriput dan bermanfaat sebagai bahan makanan, makanan ternak, bahan baku pengisi obat dan lain-lain (Harizamrry, 2007).
Tanaman jagung tidak akan memberikan hasil maksimal manakala unsur hara yang diperlukan tidak cukup tersedia.  Pemupukan dapat meningkatkan hasil panen secara kuantitatif maupun kualitatif.  Lingga dan Marsono (2001) menyatakan bahwa, pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah karena berisi satu atau lebih unsur untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman.

3

 
Nihayati dan Damhuri (2004) mengemukakan bahwa, pertumbuhan tanaman yang baik diperlukan pemberian pupuk yang memadai.  Pemupukan nitrogen merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil jagung manis.  Umumnya untuk mencapai hasil maksimum petani sering memberikan pupuk melebihi kebutuhan tanaman dan kurang memperhatikan waktu pemberian yang tepat.
Berbagai upaya dapat dilakukan untuk menghasilkan produksi jagung manis.  Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi jagung manis dapat ditempuh dengan pemberian pupuk dan pengaturan jarak tanam.  Pupuk terbagi menjadi dua macam yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik (Rahmi dan Jumiati, 2003).
 Pupuk organik  adalah pupuk yang sebagian besar  atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman atau hewan yang telah melalui proses dari rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, biologi dan kimia tanah (Suriadikarta dan Simanungkalit, 2006 ).

3

 
Pemupukan melalui tanah kadang–kadang kurang bermanfaat, karena berbagai unsur hara telah larut lebih dahulu dan hilang melalui air perkolasi atau mengalami fiksasi oleh koloid tanah sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Upaya yang dapat ditempuh agar pemupukan lebih efektif dan efesien adalah dengan cara menyemprotkan larutan pupuk melalui daun tanaman.

4

 
Pupuk Organik Cair (POC), adalah jenis pupuk yang berbentuk cair tidak padat yang mudah sekali larut pada tanah dan membawa unsur-unsur penting guna kesuburan tanah.  Pupuk Organik Cair adalah pupuk yang dapat memberikan hara yang sesuai dengan kebutuhan tanaman pada tanah, karena bentuknya yang cair, maka jika terjadi kelebihan kapasitas pupuk pada tanah dengan sendirinya tanaman akan mudah mengatur penyerapan komposisi pupuk yang dibutuhkan (Yulianti, 2000).
Pemberian pupuk organik cair harus memperhatikan konsentrasi atau dosis yang diaplikasikan terhadap tanaman.  Penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair melalui daun memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan pemberian melalui tanah (Hanolo, 1997). Semakin tinggi dosis pupuk yang diberikan maka kandungan unsur hara yang diterima oleh tanaman akan semakin tinggi, begitu juga dengan semakin seringnya frekuensi aplikasi pupuk daun yang dilakukan pada tanaman, maka kandungan unsur hara juga semakin tinggi.  Namun, pemberian dengan dosis yang berlebihan justru akan mengakibatkan timbulnya gejala kelayuan pada tanaman (Suwandi dan Nurtika, 1987).  Oleh karena itu, pemilihan dosis yang tepat perlu diketahui oleh para peneliti dan hal ini dapat diperoleh melalui pengujian-pengujian di lapangan (Rizqiani, dkk., 2007).
Menurut Rahmi dan Jumiati (2007),  perlakuan waktu penyemprotan  pupuk oganik cair (POC) Super ACI 15 hari,30 hari dan 45 hari menghasilkan tanaman yang lebih tinggi, umur tanaman saat keluar bunga betina dan umur panen yang lebih cepat, komponen tongkol yang besar dan lebih berat serta produksi tongkol yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan waktu penyemprotan pupuk organik cair Super ACI 12 hari, 24 hari, dan 42 hari dan perlakuan waktu penyemprotan pupuk organik cair Super ACI 18, 36 dan 54 hari.

5
 
Menurut Parman (2001),  pemberian pupuk organik cair dengan dosis        4 ml L-1 dengan waktu penyemprotan 2 hari, 4 hari dan 6 hari setelah tanam menghasilkan hasil yang signifikan terhadap jumlah daun, diameter umbi dan berat basah tanaman.
Berdasarkan berbagai uraian di atas maka penulis tertarik melakukan penelitian terhadap budidaya tanaman jagung manis dengan perlakuan pengaturan takaran pemberian pupuk organik cair, Karena sampai batas tertentu konsentrasi yang diberikan  dengan aplikasi takaran pupuk daun yang dilakukan merupakan faktor yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt).











6

 
B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian Pupuk Organik Cair (POC)  terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays sachhrata Sturt).  
2. Kegunaan Penelitian
Sebagai bahan informasi bagi semua pihak yang membutuhkan, khususnya bagi para petani yang membudidayakan tanaman jagung.



















II.   TINJAUAN PUSTAKA


A.  Sistematika dan Botani Tanaman Jagung Manis       

Tanaman jagung manis termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea mays saccharata Sturt.  Klasifikasi tanaman jagung manis adalah sebagai berikut:
Kingdom           : Plantae
Divisio              : Spermatophyta
Sub division      : Angiospermae
Kelas                : Monocotyledonae
Ordo                  : Poales
Famili                : Poaceae
Genus                : Zea
Spesies               : Zea mays saccharata Sturt.

7

 
Menurut Purwono dan Hartono (2005), jagung merupakan tanaman berakar serabut yang terdiri dari tiga tipe akar, yaitu akar lateral, akar adventif, dan akar udara.  Akar lateral tumbuh dari radikula dan embrio. Akar adventif disebut juga akar tunjang.  Akar ini tumbuh dari buku paling bawah, yaitu sekitar 4 cm di bawah permukaan.  Sementara akar udara adalah akar yang keluar dari dua atau lebih buku terbawah permukaan tanah.  Perkembangan akar jagung tergantung dari varietas, kesuburan tanah, dan keadaan air tanah.  Batang tanaman jagung tidak bercabang, berbentuk silinder.  Pada buku ruas akan muncul tunas yang berkembang menjadi tongkol.  Tinggi tanaman jagung tergantung varietas, umumnya berkisar 100 cm sampai 300 cm.  Daun jagung memanjang dan keluar dari buku-buku batang. Jumlah daun terdiri dari 8 helai sampai 48 helai tergantung varietasnya. Antara kelopak dan helaian terdapat lidah daun yang disebut ligula, fungsi ligula adalah mencegah air masuk ke dalam kelopak daun dan batang.

8

 
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious).  Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret.  Dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (gluma).  Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence).  Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol, yang tumbuh dari buku di antara batang dan pelepah daun.  Umumnya satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina.
Biji jagung terletak pada tongkol (janggel) yang tersusun memanjang. Pada tongkol tersimpan biji-biji jagung yang menempel erat, sedangkan pada buah jagung terdapat rambut-rambut yang memanjang hingga keluar dari pembungkus (kelobot). Setiap tanaman jagung terbentuk satu sampai dua tongkol.  Biji jagung memiliki bermacam-macam bentuk dan bervariasi.  Perkembangan biji dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain varietas tanaman, tersedianya makanan di dalam tanah dan faktor lingkungan seperti sinar matahari dan kelembaban udara.  Biji jagung manis yang masih muda mempunyai ciri bercahaya dan berwarna jernih seperti kaca sedangkan biji yang telah masak dan kering akan menjadi keriput atau berkerut.

9
 


9

 
Jagung manis mempunyai nilai nutrisi yang lebih baik dibandingkan dengan jagung biasa.  Kandungan zat gizi jagung manis tiap 100 gram berat bahan yang dapat dimakan tertera pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Nilai Zat Gizi Jagung Manis tiap 100 gram yang Dapat Dimakan

 No
              Zat gizi
  Kandungan zat gizi
     1
              Energi
96,0         kalori
     2
              Protein
                    3,5         g
     3
              Lemak
1,0         g
     4
              Karbohidrat
22,8         g
     5
              Kalium
3,0         mg
     6
              Fosfor
                111,0         mg
     7
              Besi
0,7         mg
     8
              Vitamin A
                400,0         SI
     9
              Vitamin B
0,15       mg
   10
              Vitamin C
                  12,0         mg
   11
              Air
                  72,7            g





B.    

10

 
Syarat Tumbuh
1.      Iklim
Tanaman jagung dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi 1300 m di atas permukaan laut (dpl), kisaran suhu antara 13ºC sampai 38ºC dan mendapat sinar matahari penuh.  Tanaman jagung tumbuh dan berproduksi optimum di dataran rendah Indonesia sampai ketinggian 1800 m di atas permukaan laut (dpl), dan memerlukan curah hujan ideal sekitar 85 mm per tahun sampai 200 mm per tahun selama masa pertumbuhan.
2.   Keadaan Tanah
Tanah sebagai tempat tumbuh tanaman jagung harus mempunyai kandungan hara yang cukup.  Tersedianya zat makanan di dalam tanah sangat menunjang proses pertumbuhan tanaman hingga menghasilkan.
Tanaman jagung tidak membutuhkan persyaratan yang khusus karena tanaman ini tumbuh hampir pada semua jenis tanah asalkan tanah tersebut subur, gembur, kaya akan bahan organik dan drainase maupun aerase baik.  Kemasaman tanah (pH) yang diperlukan untuk pertumbuhan optimal tanaman jagung antara pH 5,5 sampai pH 6,5 tetapi yang paling baik adalah pH 6,8.
3.  Peranan Pupuk Organik Cair (POC) bagi Tanaman
POC merupakan bahan organik murni berbentuk cair dari limbah ternak dan unggas, limbah alam dan tanaman, beberapa jenis tanaman tertentu serta zat-zat alami tertentu yang diproses secara alamiah. POC berfungsi multiguna terutama dipergunakan untuk semua jenis tanaman pangan (padi, palawija), horti (sayuran, buah, bunga) dan tahunan (coklat, kelapa sawit, karet) juga untuk ternak/unggas dan ikan.  POC mempunyai fungsi setara dengan kandungan unsur hara mikro 1 ton pupuk kandang.  Kandungan humat dan fulvat yang dimiliki POC berangsur-angsur akan memperbaiki konsistensi (kegemburan) tanah yang keras serta melarutkan SP-36 dengan cepat. Kandungan Zat Pengatur Tumbuh (Auxin, Giberelin dan Sitokinin) akan mempercepat perkecambahan biji, pertumbuhan akar, perbanyakan umbi, fase pertumbuhan tanaman serta memperbanyak dan mengurangi kerontokan bunga dan buah. Aroma khas POC akan mengurangi serangan hama. POC akan memacu perbanyakan pembentukan senyawa polyfenol untuk meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit. Jika serangan hama dan penyakit melebihi ambang batas pestisida tetap digunakan secara bijaksana, karena POC hanya mengurangi serangan hama dan penyakit bukan untuk menghilangkan sama sekali).

11

 


C.  Peranan Unsur Hara bagi Pertumbuhan Tanaman
            Tanaman memerlukan makanan yang sering disebut hara tanaman.  Tanaman membutuhkan bahan organik untuk mendapatkan energi dan pertumbuhannya, dengan menggunakan hara, tanaman dapat memenuhi siklus hidupnya. Fungsi hara tidak dapat digantikan oleh unsur lain (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).
 Tanaman terdiri atas bahan organik 27%, air 70% dan mineral 3%. Analisis kimia menunjukkan bahwa pada tubuh tanaman adanya berbagai unsur mineral dan unsur hara yang berbeda, ketersediaan dalam medium yang berbeda dan juga tergantung pada organ tanaman dan umur tanaman (Samekto, 2008).

12

 
Daun memiliki mulut yang dikenal dengan nama stomata. Sebagian besar stomata terletak di bagian bawah daun. Mulut daun ini berfungsi untuk mengatur penguapan air dari tanaman sehingga air dari akar dapat sampai daun. Saat suhu udara terlalu panas, stomata akan menutup sehingga tanaman tidak akan mengalami kekeringan. Sebaliknya, jika udara tidak terlalu panas, stomata akan membuka sehingga air yang ada di permukaan daun dapat masuk dalam jaringan daun, dengan sendirinya unsur hara yang disemprotkan ke permukaan daun juga masuk ke dalam jaringan daun.
Penyemprotan pupuk daun idealnya dilakukan pada pagi atau pada sore hari karena bertepatan pada saat membukanya stomata. Prioritaskan penyemprotan pada bagian bawah daun karena paling banyak terdapat stomata. Faktor cuaca termasuk kunci sukses dalam penyemprotan pupuk daun. Dua jam setelah penyemprotan jangan sampai terkena hujan karena akan mengurangi efektifitas penyerapan pupuk. Tidak disarankan menyemprotkan pupuk daun pada saat suhu udara sedang panas karena konsentrasi larutan pupuk yang sampai ke daun cepat meningkat sehingga daun dapat terbakar (Yusuf, 2010).



III.  PELAKSANAAN PENELITIAN


A. Tempat dan Waktu
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Desember 2011 sampai bulan Februari 2012 di Palembang, Kecamatan Sako, Palembang dengan ketinggian ketinggian 24 m  di atas permukaan laut.

B.   Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : benih jagung manis bisi sweet, pupuk organik cair (POC), pupuk N, P, dan K           (sebagai pupuk dasar), Fungisida Dithane M-45, Insektisida Sevin 85 SP, air, serta bahan-bahan lain yang diperlukan dalam penelitian.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, parang, babat, gembor, tali rafia, tangki, meteran, gunting, papan sampel, timbangan, kalkulator, alat tulis dan peralatan lain yang diperlukan dalam penelitian.
C.   Metode Penelitian
1.  Rancangan Percobaan

13

 
Percobaan ini akan dilakukan dengan mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 (empat) perlakuan dan diulang sebanyak 6 (enam) kali.  Sehingga didapat 24 satuan percobaan. Jumlah sampel yang diamati dalam setiap satuan percobaan berjumlah 4 (empat) tanaman.

14

 


14

 
2.  Rancangan Perlakuan
 Pemberian pupuk organik cair terdiri dari 4 (empat) level, yaitu :
P0 =  kontrol
P1 = 20 cc/20 lt air
P2 = 40 cc/20 lt air
P3 = 60 cc/20 lt air
3.   Rancangan Respon
Peubah yang diamati pada penelitian ini adalah :
a.      Tinggi Tanaman (cm)
Pengamatan tinggi tanaman dilakukan dari pangkal tumbuh tanaman pada permukaan tanah yang sudah ditandai dengan menggunakan patok standard sampai pada ujung daun tertinggi. Pengukuran dimulai pada saat tanaman berumur 2 (dua) minggu setelah tanam (MST) sampai muncul bunga jantan, dengan interval waktu pengukuran 1 (satu) minggu sekali.
b.   Jumlah Daun (helai)
Pengamatan atau penghitungan jumlah daun dilakukan pada daun yang telah membuka sempurna. Pengamatan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 minggu setelah tanam (MST) sampai tanaman mengeluarkan bunga jantan, dengan interval waktu pengamatan 1 (satu)  minggu sekali.
c.   Panjang Tongkol (cm)

15

 
Pengukuran panjang tongkol dilakukan setelah panen, yaitu setelah tongkol dipisahkan dari kelobotnya (dikelupas). Pengukuran dilakukan dari pangkal sampai ujung tongkol dengan menggunakan mistar.
d.   Hasil per Galangan (kg)
Penghitungan produksi per galangan dilakukan dengan menimbang seluruh buah jagung pada tiap-tiap galangan. Penimbangan buah jagung dilakukan dengan kondisi buah jagung masih utuh (berkelobot), yaitu dalam kondisi jagung baru dipanen dari batangnya.
1.      Rancangan Analisis
Data hasil pengamatan yang diperoleh dianalisis secara statistika berpedoman pada daftar analisis keragaman Rancangan Acak Kelompok (RAK), dapat dilihat pada Tabel  2   berikut ini :        
Tabel 2.   Analisis Keragaman Rancangan Acak Kelompok (RAK)

SK
DB
JK
KT
F – hitung
F- Tabel
5%
1%
Kelompok
k-1 = v1
JKK
JKK/v1
KTK/KTG
(v1, v3)

Perlakuan
p-1 = v2
JKP
JKP/v2
KTP/KTG
(v2, v3)

Galat
vt-v1-v2 = v3
JKG
JKG/v3
-


Total
(k.p)-1 = vt
JKT




Sumber : Hanafiah (2004)


         Uji nyata keragaman dilakukan dengan membandingkan F hitung dengan F tabel, dengan ketentuan sebagai berikut :
1.      Jika F hitung lebih besar dari F tabel 5% berarti perlakuan tersebut berpengaruh nyata, dan dinotasikan dengan (n)
2.      Jika F hitung lebih besar dari F tabel 1% menunjukkan perlakuan tersebut berpengaruh sangat nyata, dinotasikan dengan (sn)
3.      Jika F hitung lebih kecil dari F tabel 5% menunjukkan perlakuan tersebut berpengaruh tidak nyata, dinotasikan dengan (tn)
            Ketelitian dari penelitian yang dilakukan dapat dilihat dari nilai koefisien keragaman (KK) yang rumusnya adalah:
,
dimana :         KTG     = Kuadrat Tengah Galat
`        = Rerata Umum
Apabila dari hasil uji F diperoleh pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji beda antar perlakuan dengan mengunakan uji test BNT (Beda Nyata Terkecil).
D. Cara Kerja
1.      Pembukaan Lahan
a.      Persiapan Lahan
Lahan atau areal yang telah diukur dibersihkan dari gulma-gulma dan sisa-sisa tanaman yang ada. Pembersihan lahan dilakukan secara manual, yaitu dengan menggunakan alat seperti parang babat, cangkul, serta alat-alat lain yang diperlukan.
b.     

17

 
Pengolahan Tanah
Tanah diolah pada kondisi lembab, tetapi tidak terlalu basah dengan menggunakan cangkul sampai gembur agar memperbaiki struktur tanah, memperbaiki sirkulasi udara dalam tanah dan mendorong aktivitas mikroba   tanah.
c.       Pembuatan Galangan
Pembuatan galangan dikerjakan setelah pengolahan tanah selesai, yaitu dengan membuat galangan sebanyak 24 galangan berukuran 3m x 3 m. Pada saat pembuatan galangan sekaligus dibuat jarak antar galangan masing-masing 100 cm yang juga berfungsi sebagai pembuangan atau pengaliran air ketika terjadi hujan.
1.   Penanaman
Sebelum penanaman, dilakukan pemberian pupuk dasar N, P, dan K sesuai takaran anjuran. Kemudian penanaman dilakukan secara tugalan, yaitu dengan kedalaman tugalan 3 cm, kemudian setiap lubang diisi dengan 2 (dua) benih jagung dan ditutup kembali dengan tanah. Adapun jarak tanam yang digunakan adalah 50 cm x 30 cm. Setelah penanaman benih selesai, dilakukan penyiraman pertama dengan menggunakan gembor secara merata.


2.     

18

 
Aplikasi Pupuk Organik Cair (POC)
Pengaplikasian POC dilakukan setelah tanam sebelum panen dengan dosis sesuai perlakuan. Pemberian pupuk dilakukan pada pagi hari antara pukul 07.00 WIB sampai 10.00 WIB atau sore hari antara pukul 15.00 WIB sampai 18.00 WIB dengan menggunakan tanki. Pengaplikasian mulai dilakukan pada saat tanaman berumur satu minggu setelah tanam sampai pada saat tanaman sudah berbunga, setiap satu minggu sekali.

3.   Pemberian Pupuk Dasar
            Pupuk dasar N, P, K diberikan sesuai dengan dosis Urea = 400 kg/haֿ¹, SP 36 = 383 kg/haֿ¹, KCl =100 kg/haֿ¹ pada saat tanam dan 4 (empat) minggu setelah tanam dengan cara dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibuat dengan cara tugal disamping kanan tanaman dengan jarak 5 cm, kedalaman 7 cm (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).

4.  Pemeliharaan
a.  Penyiraman
Penyiraman dilakukan secara rutin setiap hari selama masa pertumbuhan tanaman, yaitu pada pagi dan sore hari dengan menggunakan gembor, dan   apabila terjadi hujan pada malam hari maka penyiraman pada pagi hari tidak dilakukan, jika hujan terjadi pada siang hari, maka penyiraman sore hari tidak dilakukan.

19

 
b. Penjarangan dan Penyulaman
Penjarangan dilakukan 7 (tujuh) hari setelah tanam dengan cara meninggalkan satu tanaman yang pertumbuhannya baik. Sedangkan penyulaman dilakukan apabila tanaman pada lubang tanam tidak ada yang tumbuh atau mati.
c. Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk mengendalikan gulma di sekitar tanaman. Penyiangan dilakukan satu minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dan lain-lain. Agar penyiangan tidak mengganggu perakaran tanaman maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.
d. Pembumbunan
Pembumbunan dimaksudkan untuk memperkokoh berdirinya tanaman. Pembumbunan dilakukan secara bersamaan dengan penyiangan ke 2 (dua) yaitu pada umur 42 hari setelah tanam.
e. Pengendalian Hama dan Penyakit
Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya hama yang dapat membahayakan proses produksi jagung. Adapun pestisida yang digunakan yaitu pestisida Sevin 85 SP. Pelaksanaan penyemprotan hendaknya memperhatikan kelestarian musuh alami dan tingkat populasi hama yang menyerang, sehingga perlakuan ini akan lebih efisien.


20

 
5.   Panen
Panen jagung manis dilakukan sekitar umur 70 hari, yaitu pada saat kelobot (bungkus janggel jagung) berwarna cokelat muda dan kering serta bijinya mengkilap.




DAFTAR  PUSTAKA

21

 


A. Rahmi dan Jumiati.  2003 Anonim.  2008.  Tanaman Jagung Manis                      (Sweet Corn).  Diakses di : www.usahawantani.com/.../Tanaman-Jagung-Manis-Sweet.Corn. tanggal 4 April 2011Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Pemupukan POC Super ACI terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung ManisFakultas  Pertanian         Universitas      Tujuh   Belas         Agustus 1945 Samarinda.
Badan Pusat Statistik 2009.  Potensi Ekonomi Andalan Provinsi Sumatera Selatan,  Palembang.  Diakses di http://www.bps.co.id, tanggal 03 Februari 2011.
Derna, H.  2007.  Jagung manis.  Diakses di http://www.scribd.com/doc/38158723/jagung manis-no4.pdf, tanggal 18 September 2011.
Hanafia, Kemas, A.  2010. Rancangan Percobaan.  Raja Grafindo Persada.  Jakarta.
     Harizamrry.   2007.  Artikel Jagung Manis.  Diakses di http://harizamrry.com/2007/…/Tanaman-Jagung-Manis-Sweet-Corn,  Tanggal 7 Mei 2011.
Hasibuan.  2006.  Pupuk dan Pemupukan.  USU Press.  Medan.
Pinus Lingga dan Marsono.  2004.  Petunjuk Penggunaan Pupuk.  Penebar swadaya: Jakarta
     Purwono, M. S.  dan Hartono, R.  2005.  Bertanam Jagung Unggul.  Penebar Swadaya.  Bogor
Sudarsana, N. K.  2000.  Pengaruh Efektifitas Microorganisme-4 (EM-4) dan Kompos terhadap Produksi Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) Pada Tanah Entisol.  diakses di : http://www.unmul.ac.id/dat/pub/frontir/sudarsana.pdf, tanggal 7 Mei 2011.
Simanungkalit, R, D, M .  dan Suriadikarta, D, A.  Pupuk Organik dan Pupuk   Hayati.  diakses di http://balittanah.deptan.go.id/dokumentasi/…/pupuk%2
organik.pdf, tanggal   23 Juni 2011.
Tim Karya Tani Mandiri.  2010.  Pedoman Bertanam Jagung.


21

 
Yulianti, D.  2010.  Pengaruh Hormon Organik dan Pupuk Organik Cair (POC) Super Nasa terhadap Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt).  Diakses di http://penelitian-organik-penelitian.blogspot.com/2010,  Tanggal 8 Mei 2011.
Yusuf, T.  2010.  Pemupukan dan Penyemprotan Lewat Daun.  Diakses di http://tohariyusuf.wordpress.com/ , tanggal 8 Mei 2011.


23

 
Lampiran 1.     Denah Penelitian  di Lapangan
          I                 II                III               IV                V                VI 


P0

 



P3

 


P1
 


P0
 


P2
 


P0
 
                                                                                                                            U

















P3
 



P2

 




P1

 



P3

 



P2

 



P2

 




                                                                                                                      
















P1

 




P1

 



P1

 



P0


 



P2

 



P3

 





P1

 



P0

 



P2

 



P3

 




P0


 



P3

 









                                                                                                                             S
                                                                                                                           
Keterangan  :
I, II, III, IV, V, VI         : Ulangan
P0, P1, P2, P3               : Perlakuan dosis pemberian pupuk
Jarak antar ulangan    : 100 cm
Jarak antar perlakuan : 100 cm
































v
 


DAFTAR  LAMPIRAN

Halaman
 1. Denah Penelitian ………………………………………………………           23
 2. Jadwal Penelitian……………………………………………………….          24



vi

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar